Pour Over dan Alat Seduhnya yang Melegenda

Senin, 8 Maret 2021 11:30 WIB

Skoppi – Di kalangan penikmat kopi specialty, cara seduh pour over tentu bukan merupakan hal baru. Hampir semua kedai kopi, menyajikan pour over yang dikenal dengan istilah V60, merujuk pada cangkir yang digunakan saat menyeduh.

Perkembangan pour over dimulai awal abad 20, saat seorang ibu bernama Melitta Bentz mematenkan filter kertas temuannya pada tahun 1908 (BACA JUGA : Cerita Melitta: Emak-emak Penemu Filter Kertas Kopi)Pengembangan produk dari Melitta terus berlangsung dan tahun 1960, Melitta memasarkan dripper 1 lubang. Produk ini menjadi ciri khas produk Melitta yang melegenda sampai sekarang.

11 tahun setelah Melitta membuat produk filter berbentuk kerucut, seorang ahli kimia bernama Peter J. Schlumbohm mematenkan alat seduh pour over temuannya pada tahun 1941. Alat tesebut dinamakan chemex. Chemex serupa tabung reaksi kimia yang sering kita jumpai di laboratorium. Chemex juga mempergunakan filter kertas yang lebih tebal dibanding filter keluaran Melitta.

Dari Jepang juga hadir alat seduh pour over yang terkenal. Hario, perusahaan yang didirikan di Tokyo pada tahun 1921, turut serta dalam perkembangan alat seduh pour over. Pada tahun 2005, Hario meluncurkan V60, dripper pour over-nya yang sangat ikonik. V60 adalah dripper berbentuk kerucut dengan sudut 600, dindingnya dilengkapi rusuk yang melengkung dan satu lubang berukuran cukup besar di bagian bawah.

Selain Hario, dari Jepang juga hadir temuan dripper pour over bernama Kalita Wave. Dasar dripper Kalita Wave berbentuk datar dilengkapi 3 lubang tempat hasil seduhan menetes ke wadah saji. Bentuk ini memungkinkan air mengalir dengan cepat dan menghasilkan sajian kopi yang segar dan enak.

Selain filter kertas yang lazim digunakan saat menyeduh pour over, ada yang menggunakan saringan berbahan kain. Teknik pour over tradisional menggunakan saringan besar dari kain dengan pegangan kayu masih dijumpai di beberapa negara Asia dan Ameika Latin. Chorreador, teknik seduh dari Kostarika merupakan salah satu contohnya. Di Indonesia, menyaring dengan saringan berbentuk seperti kaus kaki masih bisa dijumpai di antaranya saat mengunjungi kedai kopi dan melihat langsung pembuatan kopi tarik di Aceh..

Di era kopi gelombang ketiga, saat kopi specialty sangat dihargai dan diburu oleh penikmat kopi, sajian pour over menjadi salah satu pilihan menu saat berkunjung ke kedai kopi. Pour over menghasilkan kopi yang clean, dan cita rasa yang lezat. Ragam alat pour over yang dipajang dan  melihat barista menyeduh menggunakan berbagai alat pour over, dapat menjadi sajian yang menghibur dan menarik minat mengenali cita rasa beragam kopi single origin.